Dampak Mengerikan jika Rusia Gagal Bayar Utang Jatuh Tempo Rp1,6 Triliun : Okezone Economy



JAKARTA Rusia diprediksi gagal bayar utang karena begitu banyaknya sanksi yang diterima akibat menyerang Ukraina.

Rusia harus membayar bunga obligasi negara berdenominasi dua dolar sejumlah USD117 juta atau setara Rp1,6 triliun (kurs Rp14.306/USD).

Hal itu merupakan pembayaran pertama sejak invasinya ke Ukraina yang memicu serangkaian sanksi dari negara-negara Barat dan tindakan balasan dari Moskow.

Kementerian Keuangan Rusia berucap bahwa pihaknya telah mengirim perintah ke bank koresponden untuk pembayaran kupon obligasi euro sebesar USD117,2 juta yang jatuh tempo pada Rabu (16/3/2022).

Baca Juga: Dampak Perang Ukraina, Krisis Kelaparan di Yaman Memburuk

Kebuntuan diplomatik dan pembatasan ekonomi telah memicu pertanyaan tentang apakah dan bagaimana Rusia akan melakukan pembayaran. Pasalnya kegagalan bayar utang luar negeri ini terbesar pertama sejak 1917, ketika Bolshevik gagal mengakui utang Tsar setelah revolusi.

Berikut adalah hal-hal yang kita ketahui dan tidak ketahui tentang utang Rusia, sekaligus pembayarannya:

Rusia memiliki 15 obligasi internasional dengan nilai nominal sekitar USD40 miliar, yang mayoritas dipegang oleh investor internasional.

Kupon pada 16 Maret adalah yang pertama dari beberapa kewajiban bayar, dengan USD615 juta lainnya jatuh tempo pada bulan Maret ini. Pembayaran pokok pertama jatuh tempo pada 4 April ketika obligasi USD2 miliar jatuh tempo.

Baca Juga: AS Kirim Lebih Banyak Drone hingga Senjata Antiperang Udara ke Ukraina

Obligasi itu sendiri telah diterbitkan dengan campuran persyaratan. Obligasi yang dijual setelah Rusia dikenai sanksi atas pencaplokan Krimea pada 2014 berisi ketentuan untuk pembayaran mata uang alternatif. Untuk obligasi yang terdaftar setelah 2018, rubel terdaftar sebagai opsi mata uang alternatif.

Obligasi yang terkait dengan pembayaran kupon pada Rabu (16/3/202) terdaftar pada 2013 dan harus dibayar dalam mata uang dolar AS, dengan Citi sebagai agen pembayaran.

Menurut prospektus obligasi, pembayaran dalam mata uang lain hanya akan efektif setelah penerima menukarkan jumlah mata uang tersebut dengan dolar, dan dengan jumlah dolar yang dapat diperoleh kembali di pasar terbuka.

Akankah Moskow Bayar?

Sanksi yang diterapkan merupakan pukulan telak, terutama pembekuan cadangan mata uang bank sentral. Moskow pada awalnya menolak keras prospek pengiriman mata uang keras (hard currency) atau mata uang yang sering digunakan di negara-negara maju yang diterima secara luas di dunia, untuk investor asing.

Keputusan presiden pada 5 Maret mengumumkan bahwa debitur Rusia memiliki hak untuk membayar kreditur asing dalam rubel dan dengan menempatkan dana mereka di rekening Tipe C di penyimpanan nasional. Namun, bank sentral dan kementerian keuangan dapat membuat pengecualian.

Pernyataan selanjutnya lebih bernuansa dan tampaknya memungkinkan pembayaran hard currency. Kementerian Keuangan berucap dalam sebuah pernyataan bahwa mereka telah menyetujui prosedur sementara untuk melakukan pembayaran FX dan bahwa Rusia akan memenuhi kewajiban secara tepat waktu dan penuh.

Namun, jika bank asing gagal melakukan pembayaran, Rusia dapat menarik dana dan membayarnya dalam rubel ke rekening di penyimpanan nasional. Demikian dikutip dari VOA Indonesia, Kamis (17/3/2022).

Apakah Investor Dapat Menerima Uang?

Sanksi dari kedua belah pihak membuat Rusia semakin rumit untuk mentransfer dana, tetapi juga bagi investor asing untuk menerimanya.

Kantor Pengawasan Aset Asing AS (OFAC) mengeluarkan lisensi umum pada 2 Maret yang mengizinkan transaksi untuk orang AS sehubungan dengan penerimaan pembayaran bunga, dividen, atau jatuh tempo sehubungan dengan utang atau ekuitas, yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan Rusia, bank sentral atau dana kekayaan nasional.

Namun, pengecualian itu berakhir pada 25 Mei. Rusia harus membayar hampir USD2 miliar pada obligasi negara eksternal setelah batas waktu itu dan hingga akhir tahun.

Akankah Rusia Gagal Bayar?

Rusia sebelumnya diperkirakan tidak mengalami default atau gagal bayar mengingat obligasi internasional yang diperdagangkan di atas nominal sampai dengan Februari.

Sanksi-sanksi keras telah mengubah semua itu dan sekarang obligasi mengalami tekanan, beberapa hanya sepersepuluh dari nilai nominalnya.

Sebagian besar pembayaran jatuh tempo, seperti yang dilakukan pada Rabu (16/3/2022), memiliki masa tenggang 30 hari di mana Rusia memiliki waktu untuk melakukan pembayaran. Beberapa obligasi memiliki masa tenggang 15 hari.

Tidak seperti beberapa obligasi eksternal Rusia lainnya, yang memiliki ketentuan pembayaran alternatif dalam cetakan kecil, kupon yang jatuh tempo pada Rabu (16/3) harus dibayar dalam dolar AS.

Para analis memperkirakan kegagalan untuk membayar obligasi tersebut secara penuh atau membayar dalam mata uang lain akan menyebabkan default pada akhir masa tenggang.

Apa Konsekuensi Wanprestasi Rusia?

Negara-negara yang default tidak memiliki akses ke pasar modal internasional, meskipun mengingat pembatasan saat ini, Rusia masih menutup perdagangan bursa saham. Namun, default dapat memiliki konsekuensi yang jauh dan luas.

Hal ini bisa memicu polis asuransi default utang Rusia yang dikenal sebagai Credit Default Swaps (CDS) yang diambil investor dalam situasi seperti ini. Bank investasi JPMorgan memperkirakan ada sekitar $6 miliar CDS beredar yang perlu dibayarkan.

Selain itu, bukan hanya manajer aset internasional yang terkena imbas utang luar negeri Rusia. “Banyak investor Rusia membeli obligasi ini melalui rekening mereka di bank-bank Barat,” kata Ekonom CentroCredit Bank Rusia, Evgeny Suvorov.

“Ada kecurigaan besar bahwa ini khususnya terjadi pada investor Rusia yang merupakan pemegang obligasi utama dari utang luar negeri yang berdaulat,” sambungnnya.

economy.okezone.com Adalah Provider Penyedia Berita ini dengan Sumber Link Berita Asli

Semua Copyright dari Berita dimiliki oleh economy.okezone.com & Untuk Request penghapusan berita & sumber dapat melalui admin@obligasi.com